Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Laman

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan Anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, Februari 15, 2013

Review Sekolah Impian



(Madrasah Techno Natura)

Banyak membaca permasalahan pendidikan membuat kami ingin mencari sekolah yang menerapkan pendidikan yang tidak biasa namun diluar kebiasaan. Paling tidak mereka punya konsep bahwa setiap anak itu istimewa. Setiap anak tidak bisa disamaratakan. Sepertinya hal ini tidak bisa dicari disekolah IT dan SDN. Untuk IT misalnya ada konsekuensi yang sudah jelas bahwa setiap siswa punya target harus menyelesaikan sekian juz dalam 1 semester..dan semua dievaluasi dengan ranking pastinya. Apakah kita mau bila anak kita tidak dapat mencapai target lalu dikatakan gagal?? Pastinya tidak, jangan pernah katakana gagal untuk setiap pencapaian anak!! Bisa jadi justru prestasinya ada dibidang lain..itulah sebabnya kami ingin memilih sekolah yang “luar biasa”.

Lalu bagaimana dengan Techno?

Madrasah Techno Natura (MTN) juga mengusung nama islami, Madrasah Ibtidaiyah..dan mendapatkan ijin sekolah dari Depag. Muatan agama Islam sudah pasti dominan..hafalan juga ada. Dimana perbedaannya??

Untuk hafalan quran, di MTN juga ada target pencapaian, namun tidak mutlak. Untuk 6 tahun menjalani SD/MI ditargetkan dapat hafal 6 Juz, namun manajemen MTN tidak melulu menitikberatkan pada target tersebut, mereka memahami sekali bahwa setiap anak istimewa dan membawa potensi masing-masing. Untuk MTN sendiri mereka menyaring/menseleksi siswa berdasarkan potensi/kecenderungan pola pikir yang dikelompokkan dalam 4 kuadaran

Proses pembelajaran yang tidak biasa juga terjadi disini. Umumnya belajar di sekolah konvensional, guru di depan kelas “dipelototin” puluhan murid dalam 1 ruang belajar tertutup, bila saatnya istirahat, seluruh murid berteriak happy :D..menandakan boring kali y *inget jaman sekolah dulu*. Disini ruang kelas hanya saung/rumah-rumah kayu terbuka dikelilingi pepohonan, berteman nyamuk, ulat bulu, cacing dan juga laler sesekali :P …rilekss, teduh dan damai pastinya. 1 ruang belajar hanya untuk 12 siswa dari tahun ke tahun…sebenarnya ini menyesakkan hati coz banyak yang berguguran akhirnya dalam seleksi :(
 
Metode pembelajaran yang tematik mereka istilahkan dengan proyek, membuat kegiatan belajar tidak monoton. Dari 1 tema yang diangkat dalam 1 minggu, siswa diajak belajar seluruh bidang akademis yang juga dipelajari di sekolah pada umumnya (Menulis, Matematika tingkat tinggi, IPA, IPS, Teknologi dan Rekayasa dan Personal/Sosial/Kesehatan), tanpa siswa tersebut merasa bahwa dia sedang belajar hal-hal tersebut..karena tidak ada penjulukan/label..semisal hari ini jadwal pelajaran bahasa Indonesia, matematika, dll.

Dalam kegiatan tematik tersebut, seluruh siswa sejak level 1 sudah diasah kemampuan untuk mempunyai kepercayaan diri menyampaikan pemikirannya yang dituangkan dalam kegiatan presentasi. Setiap hari Jumat siswa agenda siswa adalah presentasi kegiatan yang telah dilakukannya dalam 1 minggu. Dalam sit in pun, hal ini juga dilakukan, saat Asa sit in tema presentasi tentang kegiatan outbond yang mereka lakukan di hari Rabunya.

Evaluasi belajar di MTN, kabarnya tidak dilalui dengan ujian semester. Bila siswa sekolah lain sedang keriting bin mumet belajar untuk menjalankan ujian semester, pada saat bersamaan di MTN para siswanya sedang bersenang-senang kemping….sampai sini ortu mana yang ga mupeng anaknya bakal sekolah di sini…hayo..siapa yang ga mupeng :D 

Keunggulan lainnya MTN sangat concern dalam bidang sains dan teknologi. Kabarnya untuk MA/SMA pilihan studipun mengerucut hanya untuk bidang sains. Jadi sepertinya MTN ini sedang menyaring para Saintis dan Tenhnokrat masa depan…dan semoga Asa termasuk didalamnya..aminn (mohon diaminkan yang turut membaca :).

Nah hal yang tidak kalah pentingnya juga buat Bunda kenapa memilih MTN…bisa ditebak dong?? Yup Biaya.

Sekolah unggulan identik dengan tingginya biaya yang harus dikelurkan. Ini juga yang bikin Bunda mewek…kami rasanya hopeless bisa memberikan Asa pendidikan yang sesuai cita-cita kami..ngeri  melihat besaran Uang Pangkal yang mesti dikeluarkan ..hikkss..:( Rerata sekolah yang masuk kriteria, UPnya belasan jut-jut..bahkan sampai 20 jut..Masya Allah!! 

Bila hanya sekedar SPP bulanan, Insya Allah kami bisa menyanggupi…tapi kalo diharuskan bayar UP yang segambreng itu..mesti cari dimana :(

Back to MTN, biaya yang dikeluarkan sepertinya dari tahun ketahun hanya berubah di biaya Sit In, jadi bisa di cek langsung diwebnya, kali aja Bunda salah nulis…Ini untuk tahun ajaran 2013/2014 ya, saat Asa daftar

Pendaftaran : Free
Sit in : Rp 350.000
UP : Rp 1.750.000
SPP : 5% dari Penghasilan ortu, dibayar perbulan untuk (12 + 1 bulan untuk THR guru)

Coba lihat sodara-sodara…begitu manisnya uang pangkal itu tertera…tidak seperti sekolah lainnya yang menyesakkan dadaku.

Sekarang teman-teman pasti maklum kan kenapa Bunda sampai mewek menghadapi ketetapan tidak diterimanya Asa tahun ini. Tapi Bunda dan Abi tetap kukuh hati dan berharap Asa bisa mengenyam pendidikan di MTN ini…dan semoga tahun ajaran depan 2014/2015, Asa berhasil diterima..aminnn ya Rabbal Alamin..(mohon dengan sangat  diaminkan ya Om, Tante).. semoga Allah memperkenannya..Amiinn.

Disclaimer:
Sumber tulisan berasal dari web resmi Techno Natura, observasi, obrolan langsung dengan pihak sekolah dan juga ortu siswa. Kesalahan informasi semata-mata karena kelalaian dalam menyimak dan minimnya keahlian penulis dalam ngeblog. Semoga bermanfaat ###



Rabu, Februari 13, 2013

Belajar Mandiri untuk Anak



Asa saat ini sudah menuju usia 6 tahun..kalau melihat teman-teman sebanyanya dirumah sepertinya Asa belum dapat dikategorikan anak mandiri. Sampai saat ini Asa belum mau menyiapkan dirinya dan segala keperluannya sendiri. So mandi, makan, BAB masih tergantung sama kami.

Tapi kalo melihat perbandingannya ke teman-temannya menurut Bunda hal tersebut wajar-wajar aja, karena teman-teman Asa rata-rata sudah punya lebih dari 1 adik…beda dengan Asa yang sampai saat ini masih tunggal..mungkin inilah sindrom anak semata wayang, dan kami sebagai ortu terkadang terselip juga rasa belom tega melepasnya hehhehe..

Melakukan segala sesuatunya sendiri, bukannya tidak bisa. Semuanya sudah bisa, hanya saja melakukannya tergantung angin a.k.a mood. Kalo lagi mood ok, diminta apa aja ok…tapi masalahnya kebanyakan bad mood nya hahahaha..

Hingga suatu hari Bunda dapat inspirasi dari FBnya Komunitas Ayah Edy, bagaimana merangsang kemandirian anak dengan Poin Kebaikan. 

Saat ini kami menerapkan sharing Ayah Edy tersebut dengan istilah Kartu Mandiri.


 
 Yang Bunda lakukan adalah:

  1. Membuat Kartu Mandiri, berisi kegiatan  yang akan diberi poin. Seperti gambar diatas, kartu Bunda cetak dikertas foto dengan gambar bersumber dari om Google yang baik hati :)
  2. 1 kartu bernilai Rp500 yang akan diberikan bila Asa melakukan kegiatan sesuai keterangan yang tertera dikartu
  3. Menjelang tidur, Kartu Mandiri yang telah dikumpulkan Asa, dihitung dan ditukar uang ke Bank (Bunda)
  4. Membuat komitmen dengan Asa, bahwa uang yang terkumpul adalah untuk keperluan jajan, mainan dan apa saja yang Asa inginkan. Bunda & Abi tidak akan memberikan uang selain dari poin yang terkumpul.

Hasilnya,
Hari pertama, sangat semangat…hingga bisa mendapatkan uang Rp 8000 :D
Hari Kedua, Kartu mandiri yang terkumpul hampir seluruhnya..
Hari ketiga, kartu terkumpul berkurang
Hari keempat, kelima dst…makin berkurang..hikss
Komentar Asa untuk menolak, 
A: “Asa ga mau ah mandiri-mandiri lagi, males..”
B: " nanti kan uang Asa banyak...bisa buat jajan, beli mainan, bisa sedekah..."
A: "Biarin.."
B: "Bunda ga akan beliin Asa mainan loh...uang buat beli mainan kan dari uang yang Asa kumpulin"
A: "ga papa..."
 
Walaupun Kartu Mandiri yang kami terapkan tidak bisa konsisten dijalani Asa, setidaknya kami dapat melihat bahwa sebenarnya anak kami mampu melakukannya. Jadi sewaktu-waktu saat tidak dapat bersama kami, kami sudah tidak khawatir Asa mampu melakukannya atau tidak. Dan untuk saat ini track record yang masih rutin mendapatkan kartu hanya mandi pagi+berpakaian dan sholat :D 

Yang sering dipertanyakan keluarga dan bahkan Abinya Asa saat Bunda gulirkan program ini, adalah perkara poin yang dinilai/ditukar dengan uang...apakah tidak akan membuat anak menjadi matre alias berorientasi uang atas segala kemandirian yang dilakukannya?

Pertanyaan itu terjawab langsung oleh Asa...ternyata Asa tidak pernah memikirkan uang yang akan dia dapat :) dan Asa tidak pernah memaksa minta uang untuk Kartu yang dia tidak lakukan. Bahkan untuk saat ini dia terkesan cuek saat Bunda menghitung perolehan kartunya setiap malam :D

Dalam pikiran Bunda, penerapan Kartu Mandiri ini Bunda berharap bisa mengajarkan kemandirian..pastinya, penghargaan atas upaya yang telah dilakukannya, berhitung dalam hidup dan bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang diinginkan..selain tentunya kita juga dapat mengajarkan anak pengelolaan uang...:p *mulukdotcom*. 






Senin, Februari 11, 2013

Seleksi Masuk Sekolah Impian

(Madrasah Internasional Techno Natura)



Para bunda yang berlokasi di Depok, kali ini saya mau sharing informasi kegiatan seleksi masuk Madrasah Internasional Techno Natura (MITN) tingkat Ibtidaiyah/SD.

MITN menjadi satu-satunya pilihan kami untuk calon SD-nya Asa. Alasannya karena sudah kadung jatuh cinta saat pertama kali liat profil sekolah ini dari browsing google :) ..kenapa jatuh cinta?? Mending liat webnya aja deh..pasti jatuh cinta juga :D

Tahapan yang harus kita lalui dalam  proses seleksinya Bunda kelompokkan sebagai berikut:
1. Pendaftaran
2. Open house
3. Sit in
4. Pengumuman
 
1. Pendaftaran
 
Tahap awal tentunya kita harus mengisi formulir pendaftaran. Tidak seperti sekolah lain yang sudah meminta kita merogoh kantong untuk pembelian  formulir, di MTN gratis dan bisa di download langsung di webnya atau diambil di sekretariatnya..dulu ada di Jl. Margonda Raya, tapi sekarang udah pindah dan belum tau alamatnya.

Pengalaman Bunda, lebih baik form didownload dan kelengkapan berkas disiapkan sebelum pendaftaran dibuka. Jadi begitu pendaftaran dibuka hari pertama, kita sudah bisa mengembalikan formulir lengkap. Karena tahun 2012, saat saya ambil form untuk Asa, kuota pendaftar habis pada hari ke-3…di sinilah pengalaman yang bikin Bunda hopeless n mellow abiss, karena Bunda buka web di hari ke-4..tapi dengan kepasrahan tetap juga disambangi sekretariatnya, dan akhirnya diijinkan ambil formulir dengan catatan status cadangan!!  So untuk antisipasi, jika anak kita sudah masuk di TK B, sering-sering aja meluncur ke webnya untuk liat pengumuman pendaftaran.

Pendaftaran dibuka awal Oktober 2012 dan hanya dibatasi 36 orang. Selanjutnya masuk status cadangan, entah sampai cadangan berapa yang diterima. Sedangkan jumlah siswa yang diterima awalnya hanya 12 anak saja.

2. Open house

Setelah urusan berkas selesai, tinggal menunggu pemberitahuan open house (OH). Info OH dikirim lewat sms aja. Nah untuk acara open house (7 Des ’12), Bunda ga bisa cerita karena ga hadir…karena saat itu bersamaan dengan meninggalnya Abahnya Asa (bapak mertua).

3. Sit in

Setelah OH, para ortu calon siswa akan dihubungi by telpon untuk pendaftaran sit in. Berhubung tidak ikut OH, saya cari info by sms ke Kepseknya.  Info yang Bunda terima by sms saat itu menyebutkan kalau untuk siswa cadangan menunggu bila ada pendaftar utama yang mengundurkan diri/tidak mendaftar sit in dalam periode yang ditentukan (10 s.d. 14 Des’12). Ketentuan ini bikin Bunda makin jiper aja, berasa banget nyeseknya karena ga buru-buru daftar. Bunda dan Abi akhirnya hanya tinggal pasrah dan berdoa aja…mudah-mudahan kepanggil sit in.

Alhamdulillah doa kami didengar Allah, tanggal 17 Des’12 Bunda ditelpon…kasih kabar kalau Asa bisa ikut sit in. Akhirnya keesokan harinya kami daftar sit in dan dikenakan biaya Rp 350.000. Nah inilah biaya pertama yang dikeluarkan sejak pendaftaran :)
 
Sit in ini merupakan sarana MITN untuk menseleksi para calon siswanya. Tidak seperti sekolah lain, yang melakukan seleksi dengan tes/ujian dan wawancara, di MITN siswa diseleksi dengan mengikutsertakan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, sehingga anak tidak merasa sedang diseleksi..tapi yang ada hanya sekolah seperti biasa :) Jumlah calon siswa yang ikut sit in saat itu sebanyak 40 siswa, sehingga mereka dibagi dalam 4 kelas dengan masing-masing didampingi 1 mentor dari luar sekolah sebagai Tim Penilai, biasanya dari Psikologi UI. Mentor inilah yang akan memberikan rekomendasi ke pihak sekolah.

Penilaian dalam sit in dititikberatkan pada kemampuan sosial anak dan tidak menganulir adanya prilaku bullying, baik perkataan ataupun tindakan. Sedangkan potensi siswa yang diharapkan muncul ditetapkan dalam 4 kuadran yaitu, potensi Akademis, Agamis/pembica, Potensi Desain dan Pelaksana. Jelasnya bisa dibaca di webnya.

Perlu diingat ya Bunda..untuk bullying sendiri pihak sekolah sangat concern dan sama sekali tidak ada toleran. Bunda dapat cerita nih dari angkatan sebelumnya..ada calon siswa yang prilakunya cenderung "membahayakan" anak lain, akibatnya saat sit in itu langsung diminta mengundurkan diri. Ini juga yang sempat bikin Bunda deg2an..coz anakku paling ga bisa nerima kalo diganggu/dipancing buat adu fisik, kalo diganggu keluar deh jurus karatenya...yang bikin temannya mewek sudah pasti itu..hikss. So selama 1 minggu sit-in selalu dipesan, jangan diladeni kalo ada yang usil-usil yaa...Alhamdulillah 1 minggu berlangsung aman dan terkendali :)

Sit in berlangsung selama 5 hari  (7 s.d. 11 Januari 2013) dari jam 8 s.d. 14.00 dengan 2 x istirahat. So anak kita mesti dibekali snack dan makan siang dari rumah.

Selain penilaian atas potensi calon siswa, mereka juga akan dinilai oleh kakak kelasnya, para siswa level 1 yang sedang berjalan. Karena saat kegiatan, para siswa level 1 juga turut dalam kelompok sit in.  Kakak kelas tersebut dimintakan pendapatnya mengenai penerimaan dan tanggapan mereka terhadap calon siswa.

Salah satu agenda sit in adalah kegiatan outbond di Ciseeng, Jabar. Saat Asa sit in, cuaca sedang tidak bersahabat, hujan setiap hari. Walaupun hujan, kegiatan outbond tetap jalan, jadi fisik dan mental anak-anak mesti disiapkan ya Bunda..

4. Pengumuman

Inilah saat yang paling dinantikan. Diperlukan waktu 2 minggu memproses hasil penilaian, dan 1 minggu untuk distribusi surat pengumuman. Pengumuman diberikan lewat surat yang diantar kurir ke rumah kita. 

3 minggu menunggu surat yang sangat kita harapkan bikin senewen juga...rasanya lammmaaaa banget..:D Persis awal bulan Februari (020212), surat yang ditunggupun datang.

Hasilnya..ternyata Asa mesti menunggu lagi 2 minggu kemudian...karena dalam surat pengumuman itu Asa hanya masuk cadangan putra..jadi kami sangat berharap ada siswa yang memiliki potensi di kuadran yang sama mengundurkan diri...biar Asa bisa menggantikan tempatnya..semoga..Aminn ^_^

Inilah suasana sekolah impian ku... (Asa atau ortunya ya :D)

# Update 14 Februari 2012 #



Dua minggu hamper berlalu, kemarin Bunda tergerak untuk telpon ke MTN, dan akhirnya diberi kabar kalau seluruh calon siswa sudah mendaftar ulang sehingga tidak ada yang mengundurkan diri…hikksss sedihnya tak tertahan :( Mendengar kabar itu rasanya seperti dulu ga keterima UMPTN, airmata ga tertahan lagi buat tumpah setiap abis sholat..*ciyuss loh ga lebay*

Ternyata Allah belum memperkenankan jagoan Bunda untuk mengenyam pendidikan disana. Mungkin juga karena tidak singkronnya keinginan kami sebagai ortu dengan Asa. Baru tau soalnya kalo ternyata Asa itu happy banget saat tau ga diterima..gini ceritanya..

Istirahat kantor seperti biasanya Bunda pulang dan mau kasih kabar ke Asa..

B: Asa, bunda sedih banget deh hari ini…

A: kenapa

B: (Saat itu kebetulan Bunda ngeliat kaki Asa kotor banget, jadi dikomentarin dulu kakinya)

     Kaki Asa kotor banget…

A: oohh kirainnn karena Asa ga diterima di Techno Natura…(sambil nyengir ngomornya)


Masya Allah...ternyata tebakannya tepat banget!!! Benar-benar ga kebayang Asa bakal ngomong begitu. Tapi omongannya itu bikin gondok aja rasanya, sementara Bundanya sedih.. lah kok dia heppy ga diterima…ampunnn anakku!!!


Akhirnya berlanjut lah obrolan, kenapa Asa ga mau sekolah di Techno…dan jawabannya benar-benar bikin geleng kepala..

“..Abisnya Techno Natura ga pake seragam..” 


OMG…juragan Bunda yang satu ini ternyata cuma kepengin sekolah yang pake seragam kaya teman-temannya!! 

Pemikiran yang sangat sederhana ala anak-anak. Disaat kami, ortunya berpikir keras untuk memberikan pendidikan yang tidak konvensional, justru anak kami ingin yang biasa-biasa saja seperti temannya. Sekolah pake seragam dengan alasannya, "Biar Asa keliatan udah anak SD" #Bundanya mingkem nahan ketawa disaat sedih#

Okelah Bunda tulis aja di blog ini alasan Bunda pengen sekali Asa sekolah di Techno, biar nanti kalo udah gede Asa bisa baca...kenapa Bunda dan Abi kekeuh mau nyekolahin Asa di Techno. Sok..maree buat teman para Bunda yang mungkin lagi bingung nyari referensi sekolah, wabil khusus yang tinggal di Depok dsk yaa..bisa juga turut baca..silakan klik disini :)