Welcome to my blog, hope you enjoy reading
RSS

Laman

Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, Desember 14, 2012

Heboh Kiamat - 121212

Tahun 2012 ini tangal heboh dan unik ada di bulan terakhir yaitu 12 Desember 2012 (121212). Banyak sekali berita yang mengkaitkan tanggal tersebut dengan hari berakhirnya dunia (kiamat)...Lebay banget ga sihh...^_^

Duluuu sekali, kata kiayamat ini dalam benak saya jadi sesuatu yang sangat menyeramkan. Bukan tanpa alasan pastinya..mau bagaimana lagi begitulah ajaran agama yang diajarkan guru-guru dan orang tua di rumah..bahwa suatu saat kehancuran dunia ini akan terjadi. Nah sekarang udah tambah umur, rasanya ga pantes lagilah berfikir seperti itu dan tidak juga bagus untuk diajarkan ke anak-anak kita.

Kiyamat itu nikmat lohh...salah besar kalau kita jadi takut sama kiyamat. Justru setiap orang beriman mesti mengalami kiayamat karena dia juga termasuk rukun iman kan?? Ayoo bingung ga heheheh

Dari pada bingung-bingung, yuks ah simak aja kuliah guru Mursyidku

  
 
KIAMAT ADALAH KEBANGKITAN,
BUKAN KEHANCURAN ALAM SEMESTA SECARA SERENTAK.

Pada saat ini, kajian tentang masalah datangnya Hari Kiamat atau Armagedon sedang banyak dibicarakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Mereka mempunyai pendapat yang berbeda-beda, tergantung dari latar belakang keilmuan dan agamanya masing-masing. Gencarnya pemberitaan Kiamat yang beragam, menyebabkan kesimpangsiuran tentang pengertian Kiamat itu sendiri, sehingga diperlukan pembahasan masalah tersebut, untuk meluruskan pengetian masyarakat tentang Kiamat yang sebenarnya. Kata kiamat berasal dari kata serapan Bahasa Arab, Qiyamat, yang mempunyai arti Kebangkitan. Menurut kaum sufi, Kiamat di bagi menjadi dua jenis, yaitu kiamat kecil (sughro) dan kiamat besar (kubro).

Kiamat kecil dibagi menjadi dua jenis yaitu : Kiamat Lahir dan Kiamat Mati. Sedangkan kiamat besar terdiri dua jenis, yaitu : Kiamat Ma’rifat dan Kiamat Akhlak.

Kiamat lahir adalah proses terjadinya kebangkitan Ruhani ke dalam jasmani seorang manusia. Peristiwa ini dinamakan kelahiran atau natal atau milad.

Kiamat mati adalah proses terjadinya kebangkitan ruhani dari jasmani seorang manusia. Peristiwa ini dinamakan kematian atau meninggal dunia atau wafat.

Kiamat ma’rifat adalah proses terjadinya kebangkitan ruhani dari jasmani seorang manusia menuju Allah, ketika sedang melakukan sholat. Peristiwa ini dinamakan mati syahid.

Kiamat Akhlak adalah proses terjadinya kebangkitan akhlak ruhani manusia menuju akhlak Allah secara kolektif. Peristiwa ini dinamakan Kebangkitan Darus Salam atau Kebangkitan Khalifatul Mahdi atau Kebangkitan Kerajaan Tuhan atau Kebangkitan Ratu Adil atau Kebangkitan Zaman Baru.

Kapan terjadinya semua jenis kiamat tersebut, hanya Allah Swt Yang Maha Tahu. Kita hanya tahu lewat tanda-tanda akan datangnya empat jenis Kiamat tersebut. Tanda-tanda akan datangnya ke empat jenis kiyamat tersebut pada dasar sama, yaitu selalu diawali dengan datangnya kegoncangan atau Al zilzal. Perbedaanya adalah, kegoncangan pada kiamat lahir, mati, dan ma’rifat berasal dari dalam diri dan hanya dirasakan oleh pribadi yang mengalaminya saja. Sedangkan pada kiamat besar, kegoncangan berasal dari bencana alam dan akan dialami oleh seluruh umat manusia di muka bumi.

Menurut kaum sufi, kiamat akhlak sudah sering terjadi dalam sejarah peradaban umat manusia di muka bumi atau di belahan alam semesta lainnya (misalnya : supernova atau ledakan bintang). Kiamat akhlak ini mengakibatkan kemusnahan umat manusia dan makhluk hidup lainnya dalam jumlah besar dan juga kehancuran peradabannya. Kemudian umat manusia atau makhluk hidup lainnya, yang masih tersisa atau selamat dari peristiwa kegoncangan kiamat akhlak tersebut, melanjutkan perjalanan hidupnya kembali dan mulai membangun peradaban yang sama sekali berbeda dengan peradaban yang telah hancur sebelumnya.

Disinilah perbedaanya, antara konsep kiamat menurut kaum sufi dengan golongan lainnya. Menurut kaum sufi, kiamat besar (jenis ke empat) bukanlah kehancuran total alam semesta, tetapi merupakan hukum Tuhan atau sunatullah untuk memperbaiki suatu peradaban makhluk hidup ke arah yang lebih baik.

“Dan apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu memperhatikan bagaimana akibatnya orang-orang sebelum mereka? Mereka (umat terdahulu) adalah lebih kuat peradabannya daripada umat sekarang dan lebih banyak bekas-bekas mereka di bumi, maka Allah menyiksa mereka karena dosa-dosanya. Dan tiadalah seorang yang melindungi mereka dari azab” (QS Al Mukmin 40 : 21)

“Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka perhatikan bagaimana akibat orang-orang sebelum mereka? Mereka (umat terdahulu) adalah lebih banyak jumlahnya dan lebih kuat (peradabannya) dan lebih banyak bekas-bekasnya di muka bumi dari umat sekarang, maka tiadalah berguna bagi mereka apa-apa yang telah mereka ciptakan” (QS Al Mukmin 40 : 82)

“Dan berapa banyak umat yang Kami musnahkan sesudah Nuh dan cukuplah Tuhanmu yang Maha Mengetahui lagi Maha Melihat dosa hamba-hamba-Nya” (QS Al Isra 17 : 16)

“Ketahuilah telah musnah bangsa Madyan seperti bangsa Tsamud yang telah binasa” (QS Hud 11 : 95)

Saat ini, para ahli sejarah dan arkelog, telah menemukan beberapa bukti sejarah yang berkaitan dengan kemusnahan peradaban manusia di masa lampau (katrastofik purba), seperti hilangnya benua Atlantis dan Lemuria serta beberapa peninggalan yang tersisa dari beberapa suku bangsa seperti kota suku Maya dan Inca di Peru, Kuil Matahari di Parhaspur Kashmir, Kota Dalam Tanah Derinkuyu dan Kaymakli di Turki, Patung Nemrud Dag setinggi 2150 m di tengah reruntuhan Piramid Nemrud Dag di Turki, Kota Batu Kuno di Yordania serta Piramid Giza di Mesir. Setelah diselidiki oleh para ilmuwan,mereka sepakat bahwa semua situs peninggalan bangsa-bangsa tersebut, dibangun pada masa ribuan tahun sebelum Masehi, dengan teknologi yang sangat tinggi. Dan yang sangat mengejutkan adalah telah ditemukan jejak radio aktif di beberapa situs tersebut.

Berdasarkan penyelidikan para ilmuwan, penyebab musnahnya umat manusia beserta peradabannya itu adalah peperangan diantara mereka yang menggunakan persenjataan yang sangat canggih. Kisah ini diabadikan dalam beberapa prasasti dan mitos yang ada dalam buku-buku beberapa suku bangsa (Legenda Atlantis, Lemuria, Huwaiki, Greek, Mabinogion) atau kitab suci seperti kisah perang Barata Yudha di padang Kurusetra dalam Baghawad Gita. Di dalam Bagwad Gita telah dikisahkan peperangan antara Pendawa dan Kurawa yang masih bersaudara, yang melibatkan banyak pasukan yang dipersenjatai dengan senjata Pamungkas yang sangat canggih, yang bisa melesat terbang di udara, mungkin sejenis Rudal Balistik, Laser Beam atau Termonuklir. Penggunaan persenjataan tersebut, mengakibatkan ledakan radiasi tingkat tinggi, yang mengakibatkan kemusnahan dan kehancuran peradaban mereka. Didalam Al Qur’an ledakan radiasi termonuklir ini, disebut dengan istilah ”suara yang sangat keras” atau Shaihah.

“Sesungguhnya Kami kirimkan kepada mereka suara yang sangat keras maka jadilah mereka seperti rumput-rumput yang kering” (QS Al Qamar 54 : 31)

“Dan orang yang zalim itu telah dibinasakan oleh suara yang sangat keras lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggal mereka” (QS Hud 11 : 94)

Kehancuran umat terdahulu juga disebabkan oleh gempa vulkanik dan juga tektonik yang sangat besar. Dalam sejarah telah tercatat letusan gunung Tambora Purba, Toba Purba dan Krakatau Purba, yang menyebabkan gempa vulkanik yang sangat besar, gelombang Tsunami yang sangat tinggi (130 m) serta penurunan suhu bumi yang sangat rendah. Peristiwa ini diabadikan dalam cerita mitos oleh Plato dalam bukunya : Dialog Timeaus dan Critias. Buku ini sampai sekarang masih tersimpan di Athena Yunani. Intisari dari buku ini adalah Dialog antara antara Timeaus dan Critias, yang keduanya dicatat oleh Plato. Dalam Al Qur’an juga telah dijelaskan bahwa umat terdahulu musnah karena adanya gempa bumi yang sangat besar.

“Mereka ditimpa gempa bumi, maka jadilah mereka mati bergelimpangan ditempat tinggal mereka” (QS Al A’raf 7 : 91)

Selain peperangan, gempa bumi, yang menyebabkan kehancuran berbagai bangsa pada jaman dahulu adalah Banjir besar dan juga hujan meteorit, asteroid dan radiasi sinar kosmik.

“Sesungguhnya Kami kirimkan hujan batu kepada mereka (kaum Nabi Luth) kecuali keluarga Luth, Kami selamatkan mereka diwaktu sahur” (QS Al Qamar 54 : 34)

“Maka masing-masing mereka itu Kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras mengguntur dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS Al Ankabut 29 : 40)

“Negeri-negeri itu Kami ceritakan kepada engkau hanya sebahagian dari berita-beritanya” (QS Al A’raf 7 : 101)

“Demikianlah itu adalah sebagian berita penduduk negeri-negeri yang Kami ceritakan kepadamu, diantaranya masih ada bekas-bekasnya dan sebagian telah musnah” (QS Al Hud 11 : 100)

Berdasarkan sunatullah, sejarah perjalan hidup manusia akan selalu terulang kembali, walaupun dalan suasana yang berbeda-beda, begitupula terjadinya Kiamat Kubro jenis ke 4, akan terus berulang-ulang terjadi, dengan tujuan untuk memperbaiki keadaan yang sudah buruk menjadi keadaan yang lebih baik dari sebelumnya. Sebelum terjadinya Kiamat Kubro jenis ke 4, dalam Al Qur’an, telah dijelaskan akan muncul Dabbah dari dalam bumi.

Dan apabila firman Allah akan jatuh atas mereka (datang Kiyamat jenis ke 4), Kami keluarkan dabah dari dalam bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa sesungguhnya manusia dulu tidak yakin kepada ayat-ayat Kami” ( QS An Naml 27 : 82)

”Dan, hanya kepada Allah bersujud apa saja yang berada di langit dan di bumi dan juga Dabah dan malaikat dan mereka tidaklah sombong. Mereka takut kepada Tuhan yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa-apa yang diperintahkan. Allah berfirman : ”Janganlah kamu adakan dua Tuhan, hanyasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka hanya kepada-Ku hendaknya kamu bertakwa”. (QS An Nahl 16 : 49-51)

Tujuan dari kemunculan Dabbah dari dalam bumi adalah untuk memberitahu akan datangnya bencana besar di muka bumi, sekaligus menyelamatkan manusia yang sudah mengenal Allah agar terhindar dari bencana tersebut. Menurut kaum sufi, pengertian Dabbah adalah :

1.Dabbah adalah nama lain dari Nur Muhammad yang akan muncul dari dalam diri orang-orang yang sudah Ma’rifatullah, yang akan memberi syafaat di waktu bencana terjadi.

2.Dabbah adalah seorang manusia yang mempunyai kesadaran iman yang sangat tinggi, sejajar dengan malaikat, yang akan muncul dari dalam rongga bumi, untuk menyelematkan manusia yang beriman.

Bencana menjelang Kiamat Akhlak akan terjadi dalam bentuk Ad Dukhon, yang mempunyai minimal dua pengertian :

1. Ad Dukhon dalam pengertian Badai Matahari, yang akan mengakibatkan terganggunya sistem medan magnet bumi, sehingga kekuatan medan magnet bumi akan menjadi lemah dan terjadi perpindahan kutub magnet bumi. Dengan melemahnya medan magnet bumi ini, maka secara otomatis sesuai hukum Allah, arah rotasi bumi akan berbalik arah sebaliknya, sehingga matahari terlihat terbit dari arah tenggelamnya. Peristiwa ini menyebabkan kemusnahan sebagian besar kehidupan di muka bumi.

“Maka tunggulah hari ketika langit membawa badai kabut yang terang, yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih” (QS Ad Dukhan 44 : 10-11 &16)

“Hingga apabila Yajuj Majuj (Ajijun Nar = Sinar Api Yang Panas) terbuka, maka mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari Kebangkitan jenis ke 4), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir. (Mereka berkata), Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dalam kegelapan” (QS Al Anbiya 21 : 96-97)

“Bila datang Kiamat (jenis 4), matahari didekatkan kepada manusia sehingga manusia dicairkan oleh sinar matahari.(HR Muslim)

“Ketika hari Kiamat (jenis ke 4) akan tiba, matahari akan terbit dari arah tenggelamnya”(HR Bukhari)

2. Ad Dukhon dalam pengertian kabut debu yang sangat tebal yang berisi gas yang berbahaya, akibat benturan antara permukan bumi dengan benda-benda langit yang masuk dan menghantam bumi. Hal ini diakibatkan karena lemahnya sistem pertahan medan magnet bumi.

Ketika hari Kiamat (jenis ke 4) akan tiba, akan muncul bintang yang berekor lagi bersinar terang (HR Bukhari)

“Kiamat akan terjadi, bila telah muncul suara yang menggelegar (saihah) di bulan Romadhon maka akan terjadi huru hara di bulan Syawal. Kami bertanya : “Suara apakah Ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Suara yang sangat keras (Haddah) di pertengahan bulan Romadhon. Pada malam Jum’at akan muncul suara yang sangat keras yang akan membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari tempat pingitannya, pada malam jum’at di tahun banyak terjadi gempa. (HR Nu’aim bin Hammad)

Ketika bencana Ad Dukhon itu terjadi, ada sebagian manusia yang di kehendaki Allah untuk tetap selamat dan hidup di muka bumi.

“Dan ditiuplah Sangkakala, maka matilah siapa yang dilangit dan dibumi, kecuali siapa yang tidak dikehendaki Allah” (QS Az Zumar 39 : 69)

“Dan pada hari ditiup sangkakala, maka paniklah siapa yang ada dilangit dan siapa yang ada dibumi, kecuali siapa yang tidak dikehendaki Allah. Dan mereka (yang masih hidup) datang menghadap Allah dengan merendahkan diri” (QS An Naml 27 : 87)

Tujuh golongan manusia, yang akan Allah lindungi dalam perlidungan-Nya di Hari tidak ada perlindungan selain perlindungan-Nya (Hari kiyamat jenis 4) yaitu : Imam yang adil, Pemuda yang hidup dalam beribadat kepada Allah, Laki-laki yang hatinya tergantung dimasjid, Dua orang yang saling mengasihi, yang bertemu dan berpisah karena Allah, laki-laki yang selalu mengingat Allah sambil meneteskan air mata, Laki-laki yang dipanggil oleh wanita kaya dan cantik lantas berkata : “Aku takut akan Allah Tuhan alam semesta”, Laki-laki yang memberikan sedekah dengan secara sembunyi-sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”(HR Bukhari)

Mereka yang selamat dari bencana Ad Dukhon adalah orang-orang yang sudah mengenal Allah.

“Barang siapa yang memahami sepuluh ayat pertama dan sepuluh ayat terakhir surat Al Kahfi, niscaya berikan perlindungan oleh Allah di hari Kiamat” (HR Bukhari)

“Kiamat akan terjadi, bila telah muncul suara yang menggelegar (saihah) di bulan Romadhon maka akan terjadi huru hara di bulan Syawal. Kami bertanya : “Suara apakah Ya Rasulullah ?”. Beliau menjawab : “Suara yang sangat keras (Haddah) di pertengahan bulan Romadhon. Pada malam Jum’at akan muncul suara yang sangat keras yang akan membangunkan orang tidur, menjadikan orang yang berdiri jatuh terduduk, para gadis keluar dari tempat pingitannya, pada malam jum’at di tahun banyak terjadi gempa. Jika kalian telah melaksanakan sholat subuh pada hari jum’at, masuklah kalian ke dalam rumah kalian, tutuplah pintu-pintunya dan sumbatlah lubang-lubangnya dan selimuti diri kalian, dan sumbatlah telinga kalian. Jika kalian merasakan suara menggelegar maka bersujudlah kalian kepada Allah dan ucapkanlah “Subhanal Qudus, Robbunal Qudus” Karena barang siapa melakukan hal itu akan selamat tetapi siapa yang tidak melakukan hal itu akan binasa". (HR Nua’im bin Hammad)

Orang-orang yang selamat dari bencana Ad Dukhon, akan melanjutkan perjalanan kehidupan dimuka bumi ini menuju Jaman Darus Salam

“Pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain dan langit diganti dengan langit yang lain, dan mereka menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa” (QS Ibrahim 14 : 48)

“Dari Sahal bin Sa'ad ra. Katanya : Rasulullah Saw bersabda: "Dikumpulkan manusia pada hari kiamat di Bumi yang putih kemerah-merahan bagai dataran yang bersih, tidak ada tanda-tanda penunjuk untuk siapapun".(HR. Imam Muslim)

“....Kemudian ditiup sekali lagi, lalu tiba-tiba mereka berdiri menunggu. Dan bersinarlah bumi ini dengan Cahaya Tuhannya dan di bentangkan Kitab Sejati, didatangkan Nabi-Nabi dan Para Syuhada kamudian diputuskan dengan benar, sedang mereka tidak dirugikan”(QS Az Zumar 39 : 69)

Selasa, Juli 17, 2012

PUASA SEBAGAI SARANA LIQA' ALLAH

By: Kuswanto Abu Irsyad

Dalam agama Islam, kita mengenal istilah Rukun Islam, yang terdiri dari lima perkara yaitu : syahadat, shalat, puasa. zakat dan haji. Kelima perkara itu merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan, makanya perkara tersebut dinamakan rukun, yang artinya satu kesatuan atau tidak terpisah. Sebenarnya kata “rukun” berasal dari serapan bahasa Arab, yaitu ruku’ yang artinya sudut atau siku. Sedangkan Islam berarti damai. Berdasarkan arti ini, dapat disimpulkan bahwa untuk mencapai kedamaian (Islam) dapat ditempuh dengan lima sudut jalan dimana kelima sudut tersebut saling berhubungan. Kelima sudut Islam tersebut, dapat diumpamakan seperti gambar segi empat.

Menurut kaum sufi, sudut puasa merupakan pusat dari empat sudut rukun Islam lainnya. Kalau dikaitkan dengan jari tangan kita, rukun Islam dapat diumpamakan jari tengah adalah simbol puasa, sedangkan jari jempol simbol dari syahadat, jari telunjuk simbol dari shalat, jari manis simbol dari zakat dan jari kelingking simbol dari haji. Kelima jari tangan kita merupakan satu kesatuan yang utuh dan sempurna. Mengapa ibadah puasa menjadi pusat dari rukun Islam ? Inilah misteri yang akan kita bahas. Kita sudah mengetahui bahwa hanya ibadah puasalah yang bersifat sangat rahasia kerena untuk mengetahui seseorang itu berpuasa atau tidak hanya dirinya dan Allah-lah yang mengetahuinya. Sehingga ibadah puasa menjadi rahasia bagi seorang hamba dengan Tuhannya.

“Setiap amal anak Adam adalah untuk anak Adam itu sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Akulah yang akan memberi ganjaran atas puasanya itu”. (HR Bukhari)

Dari Hadits tersebut, ternyata hanya ibadah puasalah yang amalnya diperuntukkan Allah. Kemudian hanya Allah yang berhak memberi ganjaran atas puasanya itu. Apakah ganjaran bagi orang yang berpuasa itu ? terlihat dengan jelas bahwa ganjaran bagi orang yang berpuasa adalah kegembiraan ketika berbuka dan bertemu dengan Allah. Selama ini kita sudah berpuasa sekian tahun, akan tetapi, sudahkah kita mendapat pengalaman spiritual yang sangat mengembirakan yaitu bertemu dengan Allah Yang Maha Indah ? Kalau kita sudah berpuasa tapi belum pernah bertemu dengan Allah, lalu bagaimana caranya agar puasa kita dapat mengantarkan diri kita mencapai pengalaman bertemu dengan Allah ?

Intisari dari amal ibadah puasa adalah menahan, mengekang dan mengendalikan diri kita dari makan dan minum serta dorongan hawa nafsu kita yang keluar dari sembilan lubang kehidupan yang ada dikepala dan tubuh kita. Proses menahan aktivitas inderawi ini, sebenarnya sudah pernah kita alami dan lakukan, tetapi sayangnya kita telah melupakan peristiwa tersebut. Pengalaman berpuasa itu adalah ketika diri kita masih berupa janin bayi yang berada dalam kandungan seorang ibu. Di dalam kandungan tersebut, kita sebagai bayi, tidak melakukan aktivitas inderawi, karena kita sedang berendam dalam air ketuban yang mengalir dan bersirkulasi. Dengan kata lain, saat itu kita tidak makan dan minum melalui lubang mulut, kita juga tidak melakukan buang air besar dan kecil, tidak berbicara kotor, tidak melihat dan mendengar hal-hal yang berbau maksiat. Singkatnya kita memang sedang melakukan ibadah puasa secara kafah atau total selama sembilan bulan. Saat itulah kita sedang menerima dan menikmati kegembiraan yang luar biasa, yaitu kita sedang mendapat curahan kasih dan sayang dari Allah di alam rahim. Kita saat itu tidak merasakan bahagia atau sedih, panas atau dingin, manis atau pahit dan sebagainya. Mengapa hal itu bisa kita alami ? karena kita saat itu sedang bertatap muka (tawajuh) dengan Allah di alam rahim-Nya. Sesuai dengan firman-Nya :

“Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Wajah Allah, yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kehanifan dan aku tidak termasuk orang musyrik” (QS Al An’am 6 :179)

Setelah lahir, pintu indera jasmani kita terbuka dan mulai menikmati keindahan duniawi, disisi lain pintu-pintu indera batin kita perlahan mulai tertutup, sehingga lambat laun kita melupakan pengalaman bertemu dengan Allah ketika berpuasa di dalam kandungan tersebut. Untuk mendapatkan kembali pengalaman bertemu dengan Allah itu dengan berpuasa, di utuslah para Nabi dan Rasul dengan membawa Kitab-Kitab Suci-Nya, yang isinya adalah Peringatan (Adz Dzikra) yang mengingatkan kita, karena kita telah lupa ingatan terhadap asal mula kejadian kita dalam kandungan. Para Juru Ingat tersebut menyeru dengan satu seruan agar kita kembali menghadap dan menemui asal kita yaitu Allah dengan cara mengulang kembali ke awal mula kejadian diri kita dahulu. Seruan itu di isyaratkan dalam Al Qur’an dan Injil :

“Katakanlah : “Sesungguhnya aku mengajarkan kepada kamu dengan satu ajaran saja, yaitu bahwa kamu harus bangkit untuk menghadap Allah , berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian hendaklah kamu pikirkan , tiadalah sahabat kamu itu gila, dia tiada lain hanyalah pemberi Peringatan kepada kamu, sebelum datang azab yang sangat keras”. ( QS Saba’ 34 : 46)

“Sesungguhnya kamu akan datang kembali menemui Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula penciptaan, dan pada saat itu kamu akan meninggalkan dibelakangmu semua apa yang dianugerahkan Allah kepadamu.........”. (QS Al An’am 6 : 94)

“Yesus berkata : Sesungguhnya aku berkata kepadamu, Jika kamu tidak kembali seperti bayi dalam kandungan, sekali-kali kamu tidak dapat masuk ke dalam kerajan Allah”. (Injil, Matius 18 : 3)

Jika kita ingin bertemu dengan Allah, kita harus menggingat dan mengulang kembali perjalanan dan pengalaman diri kita, ketika diciptakan oleh Allah pada pertama kali, yaitu ketika diri kita terendam dalam air ketuban dan ketika inderawi kita sedang tidak berfungsi. Untuk mengulang kembali peristiwa itu Allah memerintahkan kita untuk melakukan ibadah puasa seperti yang pernah kita lakukan dahulu dalam kandungan seorang ibu. Inilah perintah puasa yang diisyaratkan oleh Allah dalam Al Qur’an :

“Wahai orang-orang yang beriman, telah ditetapkan atas kamu berpuasa seperti telah ditetapkan kepada orang-orang terdahulu dari kamu supaya kamu terpelihara”. (QS Al Baqarah 2 : 183)

Berdasarkan ayat tersebut, Allah memerintahkan agar kita berpuasa kembali seperti puasa yang per nah kita lakukan dahulu dalam kandungan seorang ibu. Mungkin timbul pertanyaan dalam diri kita, bagaimana caranya kita kembali ke dalam kandungan atau alam rahim ? Kita sering tidak menyadari arti kata “kamaa”. Dalam ayat-ayat diatas. Dalam bahasa Arab, kata “kamaa” artinya adalah “seperti, sebagaimana atau bagaikan”. Dari arti ini dapat disimpulkan bahwa perintah untuk kembali ke awal kejadian adalah bukan dalam arti sesungguhnya, tetapi mirip dengan kejadian awal. Jadi kita harus mengkondisikan diri kita seperti kondisi yang mirip dengan suasana di dalam kandungan. Suasana dalam kandungan adalah penuh kedamaian, karena indera kita sedang tidak berfungsi. Begitupula jika kita melakukan ibadah puasa, kita bukan saja manahan diri dari makan dan minum saja tetapi juga harus menahan diri dari mendengar, melihat, dan mencium aroma yang ada di luar diri kita. Pada saat itu yang kita lakukan hanyalah berdzikrullah sampai kita bertemu dengan Allah, yang dikiaskan dengan munculnya “Asy Syamsu”(matahari) atau “Asy Syahru” (bulan).

“....Barang siapa diantara kamu menyaksikan “syahra”, maka hendaklah ia berpuasa....”.(QS Al Baqarah 2 : 185)

Kata “syahra” merupakan kata simbolis dari Nur Allah yang tajalli dalam diri orang yang berpuasa. Pada saat Nur Allah tajalli dalam diri dan tersaksikan, maka orang tersebut harus berpuasa dengan menahan diri untuk tidak makan, minum, mendengar, melihat, berbicara dan berfikir yang negatif. Inilah yang dikatakan dalam bahasa agama, bahwa kita mengawali berpuasa dengan sistem ru’yat. Apakah yang diru’yat oleh orang yang berpuasa ? tentunya adalah Ru’yatullah (melihat Allah). Ada juga yang melakukan ibadah puasa dahulu baru kemudian nanti melihat “syahra”, inilah yang disebut dengan mengawali puasa dengan sistem “hisab”. Artinya seseorang menahan diri dulu dari aktifitas inderawi, baru kemudian secara perlahan dia akan melihat “syahra” atau Nur Allah. Berapa lama kita melakukan ibadah puasa, tergantung dari seberapa lama “Asy Syamsu” tersaksikan oleh pelaku puasa. Dengan kata lain lamanya puasa kita tergantung dari seberapa lama Nur Allah yang tajalli dan tersaksikan oleh mata batin kita. Inilah, yang dalam bahasa syariat, bahwa orang berpuasa dimulai dari terbitnya sinar matahari sampai terbenamnya sinar matahari. Peristiwa inilah yang diisyaratkan dalam Al Qur’an.

“Apakah engkau mengira sesungguhnya penghuni gua dan raqim itu adalah termasuk tanda-tanda Kami yang mengagumkan? Ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua, lalu mereka berkata : “ Ya Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan siapkanlah petunjuk dalam urusan kami”. Lalu Kami menutup telinga mereka di dalam gua itu bertahun-tahun lamanya. Kemudian Kami bangunkan mereka untuk Kami buktikan siapa yang lebih dapat menghitung masa mereka tinggal”. (QS Al Kahfi 18 : 9-12)

“Dan engkau mengira mereka bangun padahal mereka tidur. Kami balikkan mereka ke kanan dan ke kiri sedang anjing mereka terbentang kedua lengannya di muka pintu gua...”. (QS Al Kahfi 18 : 18)

Secara simbolis, ayat tersebut diatas sebenarnya mengisahkan peristiwa seorang yang sedang melakukan puasa dalam rangka bertemu dengan Allah, yang dilakukan oleh “ tujuh penghuni gua”. Ash Habul Kahfi artinya penghuni gua yang berjumlah tujuh. Ini adalah simbol dari tujuh rasa kesadaran yang menghuni tujuh lubang inderawi yang ada di kepala manusia. Sedang raqim (batu tulis) adalah simbol dari petunjuk yang telah ditanamkan dengan kuat dalam qalbu penghuni gua. Sedangkan anjing simbol dari struktur bangunan tubuh manusia. Ketika pengaruh kenikmatan duniawi yang tercerap oleh tujuh lubang inderawi kita, sudah sedemikian kuat. Maka kita harus secepatnya melindungi diri kita dari pengaruh kenikmatan duniawi tersebut dengan cara “berpuasa” menahan aliran kesadaran yang mengarah keluar menjadi ke arah dalam diri dengan cara menutup “pintu gua inderawi”. Setelah pintu gua inderawi tertutup, maka kita bermohon kepada Allah agar diberikan Rahmat dan Rahim serta Nur Hidayah. Munculnya Rahmat dan Hidayah ini dikiaskan dengan terlihatnya sinar matahari yang terbit dari kanan gua ke arah kiri gua.

Dengan munculnya Nur Allah yang dikiaskan dengan “Sinar matahari” yang tersaksikan oleh mata batin kita, maka lambat laun kesadaran jasmani kita akan menghilang secara berangsur-angsur, sehingga kita tidak lagi mengingat lintasan peristiwa yang terjadi diluar diri kita, sampai kita terbangun kembali dengan kesadaran yang baru. Selama pintu gua tertutup, maka selama itu pula hawa nafsu yang bersarang pada jasmani kita tidak dapat masuk kedalam gua, inilah yang dikiaskan dengan “anjing”nya menunggu diluar dengan membentangkan kedua lengannya ke arah pintu gua. Arti simbolis dari membentangkan atau menjulurkan kedua lengan ke arah muka pintu gua adalah bahwa, agar kita terbebas dari cengkeram dan kejaran hawa nafsu yang ganas, maka kita harus berlindung ke dalam gua dengan cara menutup pintu gua dengan tangan kita. Agar rangsangan nafsu yang tercerap oleh inderawi akan mati secara perlahan. Ketika hal ini terjadi, barulah kita akan melihat kehadiran Nur Allah dengan mata batin kita. Menutup pintu gua inderawi dengan kedua lengan “anjing” kita, inilah yang disebut dengan mengangkat kedua tangan kita mendekat ke arah pintu inderawi yang ada dikepala, ketika kita melakukan gerakan “Takbirat al Ihram”(Takbir Larangan). Di saat inilah, kita mengharamkan telinga kita untuk mendengarkan suara apapun kecuali Suara Allah, mengharamkan mata kita untuk melihat apapun kecuali melihat obyek sujud kita yaitu Nur Allah, mengharamkan hidung kita kecuali untuk mencium aroma Nur Ilahi dan mengharamkan mulut kita mengucap sesuatu kecuali mengucapkan kalam Ilahi.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa puasa pada hakikat adalah cikal bakal dari semua peribadatan dalam rukun Islam, karena dengan berpuasa sesungguhnya kita juga telah terhubung (shalat,shilah) dengan Allah (shalatullah). Dengan berpuasa kita juga telah menyaksikan kehadiran Allah(syahadatullah). Dengan berpuasa, kita juga telah melakukan zakat (menyucikan) tujuh penghuni gua inderawi. Dan terakhir, ketika kita berpuasa, sesungguhnya kita sedang bertamu untuk ketemu dengan Allah dengan wuquf (menghentikan) jalannya aktifitas inderawi dalam rangka untuk ‘Arafah (mengenal) Cahaya Allah Yang Sangat Padang (ma’rifatullah) di padang ‘Arafah.

Jumat, Desember 17, 2010

Belajar dari CICAK





Pepatah mengatakan rezeki itu di tangan Tuhan, maka jemputlah…jangan biarkan dia tetap berada di tangan Tuhan. Kalau tetap berada di tangan Tuhan, itu artinya kita belum mendapatkan rezeki itu…setuju?!

Seperti halnya cicak di rumah saya pagi itu, dia pun menjemput rezekinya dari tangan Tuhan. Rezekinya pagi itu berupa seekor kecoa.

Cicak mengajarkan perjuangan yang gigih di pagi hari. Cicak yang terbiasa men-dinding (istilah saya sendiri) bisa menikmati mangsanya yang berada jauh di lantai-seekor kecoa-yang terbiasa melantai . Seekor cicak bisa memiliki keyakinan untuk menangkap mangsanya meski berada jauh dari hadapannya, meski diapun tak tau, akan berbentuk apa rezekinya…nyamuk-kah? Kecoa-kah atau laron yang jatuh ke lantai?

Bercermin dari cicak, kita sebagai manusia, makhluk yang diciptakan Tuhan untuk menjadi penguasa di alam ini…sungguh amat bodoh jika memiliki kata putus asa dalam menjemput rezeki. Karena kita diberikan kemampuan luar biasa untuk menjemput rezeki dengan seluruh anggota tubuh kita, dari yang zahir sampai yang batin.

Manusia pun telah dibekali Tuhan dengan janji-Nya, bahwasanya manusia bisa mendapatkan apapun yang dipintanya melalui Doa. Sekarang kembali kepada kita, seoptimal apakah kita berikhtiar dalam menjemput sang Rezeki…

Semangad Pagiii...Semangaddd menjemput rezeki di hari ini :)

Rabu, Desember 30, 2009

Have u think 'ur future??-Stop thinking about today


Kebanyakan orang hanya berfikir tentang apa yang mau mereka raih saat ini. Demikian juga saya termasuk kategori ini. Kebiasaan ini membuat saya tidak bisa bersabar untuk menunggu sesuatu yang bisa saya dapatkan, dengan besar kemungkinan sesuatu itu pasti lebih baik lagi.

Bagi seorang dengan konsep diri future, dia akan sanggup menunggu keluarnya suatu pengumuman/berita dalam jangka 6 bulan atau bahkan 1 tahun kedepan. Seorang dengan future tidak menganggap 6 bulan waktu yang panjang, karena dia akan merajut future lain dan future lain lagi. Sehingga setelah sampai 6 bulan kedepan diraihlah kesuksesan sebagai buah kesabaran menunggu dan merajut future.

Bukan hal mudah merubah mindset menjadi future, terlebih bila mindset awal terbiasa dengan serba instant. Dengan status sebagai karyawan saat ini, terbiasa memperoleh hasil secara instant, dan tentunya menghabiskannya juga instant. Disebut instant karena baik ataupun buruk kinerja saya, tetap saja saya memperoleh sallary yang besarannya tidak akan berubah dari waktu ke waktu dan sampai waktu yang ditentukan pimpinan. Karena sudah memperoleh jumlah yang instant otomatis, anggaran tiap bulanpun tidak boleh melebihi pemasukan yang instant ini, langsung keserep instant dalam anggaran.

Hohoho...PR besar untuk saya merubah konsep diri menjadi bervisi future??? I think it's a must. Start it from now…and I'll get 'my future…welcome to SUCCESS..

Inspired by talking out with Bp. Tris.